• Home
  • Manajemen
  • Opini
  • Musik
  • Motivasi
  • Rhomansa
  • Organisasi
  • Pepatah
  • PKM
  • Tahu kah Kamu
  • Download Ebook
  • Friday, 28 October 2016

    Dakwah dibalik Kekuasaan, 5 Tugas Seorang Muslim

        Dakwah sejatinya menjadi jalan penyampai kebenaran dan kebaikan. Karenanya bisa dilakuan oleh siapa saja, kapan saja, dan melalui media apa saja. Namun faktanya dakwah mengalami dinamika, bukan hanya faktor insani dan materi, namun harus berbeturan dengan sistem yang ada. Dakwah bisa saja menjadi penggerak sosial, bisa pula menjadi magnet penenang massa. Dakwah bisa menjadi katub stabilitas sosial dan juga bisa menjadikan motor penggerak transformasi sosial.

        Islam sebagai agama yang hak dan sempurna  serta Rahmatanlil 'alamin menjadi semangat tersendiri bagi para pemeluknya.  Sehingga tak ada masalah dengan Islam ketika Bangsa Ini menganut Pancasila sebagai Idiologi Kehidupan berbangsah dan bernegara. Dimana Pancasila mengantarkan bangsah ini kedalam kehidupan harmonis dengan semboyan pemersatu Bhineka Tunggal Ika yang nilai-nilai didalamnya merupakan citacita bangsah dan hanya mungkin tercapai apabila para pemeluknya hidup rukun sesuai dengan harapan Idiologi tersebut. Namun Kisruh Pilgub DKI yang dimana calon Petahana basuki Cahya Purnomo telah Menodai keharmonisan kehidupan dengan statement yang mendiskreditkan Al-Quran sebagai pedoman hidup Muslim. Hal ini tentu saja menimbulkan Respon yang negatif begi atmosfir kehidupan masyarakat terkhusus DKI Jakarta. Semua itu dilakukan demi mendapatkan legitimasi untuk memimipin Ibu kota Republik Ini.

        Legitimasi kekuasaan diperlukan untuk menjalankan peran suatu golongan dalam menerapkan peraturan serta Idiologi demi menciptakan Masyarakat yang Ideal menurut kebanyakan orang. Pada masa Orde Baru, Kemunculan kelompok Separatis Negara Islam Indonesia (NII), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang tidak memiliki legitimasi menjadi momok yang menakutkan bagi pemerintahan yang ada dan menjadi penyebab mengapa pemeritah pada saat itu bersifat represif terhadap umat muslim. Rezim Soeharto banyak mengeluarkan kebijakan yang melumpuhkan potensi umat muslim bahkan dampaknya masi sangat nyata hiingga hari ini. Diera itu, pemerintah pernah mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan jilbab di sekolah negeri. Berdasarkan SK 052/C/Kep/D/1982. Begitu juga dengan penggunaan lambang Ka'bah pada Partai Persatua Pembangunan (PPP) yang merupakan hasil fusi dari beberapa partai Islam. Pemerintahan orde baru juga pernah mengeluarkan kebijakan pembatasan fungsi mesjid hanya sebagai tempat ritual sholat saja, yang nyatanya pada saat itu mesjid digunakan umat muslim sebagi pusat segala kegiatan, juga pernah pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai Pembatasan Jumlah anak atau yang saat ini lebih kita kenal dengan Keluarga Berencana dengan slogannya 2 anak cukup. Padahal dalam Islam sendiri tidak pernah membatasi jumlah anak, sebab anak merupakan anugrah Tuhan yang tidak semua keluarga bisa memilikinya dan memiliki garis Rezkinya masing-masing. 

        Kehidupan Suatu kelompok sangat berpengaruh pada siapa yang mendominasi kelompok itu, namun minoritas bisa saja lebih berpengaruh ketika legelitas mereka miliki. Maka dari itu sudah sepatutnya simbol-simbol kekuasaan harus direbut umat muslim untuk menjaga nilai-nilai yang ada dimasyarakat agar tidak minyimpang jauh dari kehidupan  adil makmur yang di ridohi Allah SWT. 

        Dengan menjaga simbol-simbol kekuasaan yang ada, umat  muslim bisa menjadikannya sebagai Penjaga agar para dai bisa berdakwah dengan baik, pula dengan sistem yang mendukung. Ibarat Sebuah Perumahan, legalitas kepemimpinan bisa menjadi satpam penjaga manakala orang asing mencoba mengusik perumahan tersebut.

        Bigitupun kehidupan Kampus yang sejatinya adalah miniatur Pemerintahan  yang ada. Organisasi-organisasi yang ada perlu didominasi dengan nilai-nilai kualitas insan cita yang merupakan cita-cita mulya serta selaras dengan syariah. Dengan mendominasi kita bisa menerapkan cita-cita mulya itu dengan lebih mudah dan meperlihatkan eksistensi Islam yang Rahmatanlil 'alamin. 

        Dalam menyebarkan serta menjaga nilai-nilai Islam ini, Al - Quran telah menggambarkan dengan sangat jelas. Tugas ini tidak saja di emban oleh para dai/daiah namun tugas dan tanggung jawab ini menjadi tugas setiap umat muslim yang ada. 

        Setidaknya ada lima tugas yang diemban oleh setiap umat Muhammad saw berdasarkan Al-Quran. Pertama, pastinya seorang muslim punya tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Hal ini dijelaskan Allah dengan Firmannya
    :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً “Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” ( Qs. At-Tahrim ayat 6).

        Tugas yang kedua, selain bertanggung jawab kepada dirinya setiap umat muslim juga bertanggung jawab atas keluarganyanya. Maka didiklah keluarga kita, sebab itu sudah kewajiban kita agar diri dan keuaga kita terhindar dari panasnya Api Neraka.

        Tugas yang ketiga, sebagai seorang muslim yang rahmatanlil 'alamin kita juga bertanggung jawab atas keislaman kaum kerabat terdekat kita. Kaum kerabat kita adalah tempat dimana kita sering berintraksi dan bertemu mereka. Allah SWT berfirman agar kita memberi peringatan kapa kaum kerabat kita. “Dan peringatilah keluargamu dan kaum kerabatmu” (QS. Asy syu’ara 214).
     
        Sebagi seorang muslim dugas kita bukan malah makin kecil namun sebaliknya. Tugas seorang Muslim yang Keempat, adalah bertanggung jawab atas sesama muslim didaerahnya. Allah SWT berfirman : "Dan agar kamu memberi peringatan kepada(penduduk)'ibu negeri'(mekkah) dan (orang-orang)yang diluar lingkungannya."(Al-an'am :92).
     
        Barulah untuk tugas yang kelima, Umat Muslim bertaggung jawab kepada seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman "Kalian sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.''(Ali imran: 110).
     
        Tugas seoang muslim memang berat, namun hal itu bisa kita lakukan dengan bertahap. Banyak pemuda yang bercita-cita ingin mengubah sistem yang dzolim namun sampai akhir khayatnya tidak sedikitpun iya mampu melakukannya. Sebab perubahan sejatinya harus kita mulai dari diri kita sendiri barulah kelurga, kaum kerabat, lingkungan, serta bangsah dan negara. Jangan sampai terbalik.
    All haqqu Mirhobbi

    Wallahul Muafiq Ila Aqwamit thariq
    YAKIN USAHA SAMPAI



    PUSTAKA
    Hilmi, Mister,. (diakses 10/15/2016), Tugas yang dianut setiap umat nabi muhammad saw,     https://prezi.com/df HYPERLINK "https://prezi.com/df9w7rzxq6zx/5-tugas-yang-ditanggung-oleh-setiap-umat-nabi" HYPERLINK "https://prezi.com/df9w7rzxq6zx/5-tugas-yang-ditanggung-oleh-setiap-umat-nabi" HYPERLINK "https://prezi.com/df9w7rzxq6zx/5-tugas-yang-ditanggung-oleh-setiap-umat-nabi"9 HYPERLINK "https://prezi.com/df9w7rzxq6zx/5-tugas-yang-ditanggung-oleh-setiap-umat-nabi" HYPERLINK "https://prezi.com/df9w7rzxq6zx/5-tugas-yang-ditanggung-oleh-setiap-umat-nabi" HYPERLINK "https://prezi.com/df9w7rzxq6zx/5-tugas-yang-ditanggung-oleh-setiap-umat-nabi"w HYPERLINK "https://prezi.com/df9w7rzxq6zx/5-tugas-yang-ditanggung-oleh-setiap-umat-nabi" HYPERLINK
    Mustofa, Kurdi,. 2012, Dakwah dibalik kekuasaan. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Monday, 11 January 2016

Menatap Indonesia 2016 " Antara Peluang dan Tantang"

“JASMERAH” Jangansekali-kali melupakan sejarah.
“ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya”

Beberapa kutipan Bung Karno diatas  Mungkin kembali membangkitkan rasa patriotisme dan Nasionalisme kita kalau mengingat-ngingat sejarah para pahlawan yang dengan Harta maupun nyawa berkorban demi kemerdekaan anak cucunya dari tangan para penjajah . Adalah suatu hal yang biasa saat ini jikalau saat generasi penerus yang menikmati jasa perjuangan para pahlawan Bangsa ini lupa dengan sejarah bangsanya. Inilah akibat globalisasi yang tidak dipersipakan dengan baik oleh pemerintahnya. Bahkan lebih parahnya lagi Pancasila yang menjadi Idiologi Tunggal bangsa ini sudah mulai dilupakan oleh para pemuda pengisi kemerdekaan saat ini.

Indonesia, bangsa yang besar dengan segala kekayaannya mulai dari 17.504 Pulau, 1.340 Suku bangsa, dan 546 bahasa telah menjadikan bangsa ini bangsa yang multy cultural. Hal yang biasa jikalau bangsa ini mudah bergejolak. Namun Idiologi Nasional dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” telah mempersatukan keberanekaan bangsa ini sehingga mampu bersaing ditengah-tengah himpitan Perkembangan Global  yang kian kemari memberi dampak terhadap perkembangan bangsa ini.
70 Tahun Indonesia Merdeka, bukan suatu hal yang kebetulan bangsa ini dipimpin jugaPresiden ke-7. Ir. H. Jokowidodo yang telah setahun lebih menduduki istana kepresidenan, banyak pergolakan ekonomi yang perlu menjadi bahan perhatian. Semisal Harga BBM yang Mengalami Fluktuatif, begitupun Rupiah , dan TOL laut Jokowi yang kini menjadi “Utopi”.
Ditengah-tengah himpitan globalisasi, Indonesia malah tampil dengan berjuta masalah yang seakan dibuat pelik. Peluang besar dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi terabaikan. Bukan tidak mungkin kalau bangsa ini nantinya hanya akan menjadi pasar empuk Negara tetangga, melihat kesiapan mereka yang lebih mantap dalam menyambut ASEAN Comunity. 
Thailand misalnya, sejak 2008 telah mempersiapkan diri menyambut MEA ini dengan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada para mahasiswanya. Berbanding terbalik dengan Indonesia, kian kemari bukan berbenah diri ataupun mempersiapkan diri, malah sibuk sendiri-sendiri mengurusi persoalan politiknya yang tak jelas arahnya.
Kini AFTA (Asean Free Trade Area) atau MEA sudah resmi diberlakukan mulai tanggal 31 Desember 2015 kemarin. Catatan merah lapor Indonesia masi terpampang dimana-mana. Perguruan Tinggi yang menghasilkan 600.000 pengangguran terdidik pertahunnya belum mampu terserap oleh lapangan kerja yang ada. Belum lagi masuknya tenaga kerja dari Negara-negara anggota ASEAN lainnya menambah padat persaingan yang ada. 
Indonesia dengan berbagai kekayaan alamnya seakan terlihat berbangga. Kalau bangsa kita tidak mau berupah, yakin dan percaya kekayaan alam kita bukan kita yang rasakan. Kita hanya akan gigit jari dinegara sendiri, seperti “Tikus yang mati dilumbung Padi”. Itu semua adalah tantangan besar untuk bangsa ini. Sebab besar sebuah tantangan berbanding lurus dengan peluang menang atau kalah yang akan didapatkan.
Penduduk ASEAN berjumlah 600 juta lebih, dan 43%  ada di Indonesia. Dengan begitu bangsa kita kemungkinan besar menjadi target pasar utama begi Negara-negara yang terhimpun dalam ASEAN Comunity. Sehingga hemat penulis, Pemerintah dengan berbagai macam kesibukannya harus menyisihkan waktu khusus untuk membahas masalah ini.
Dari dalam negri misalnya, pemerintah harus mempekokoh regulasi tentang dominasi asing dan mendukung produksi domestik agar tidak kalah saing dengan produksi yang akan masuk nantinya. Pemerintah juga harus melakukan berbagai macam pelatihan dan pembimbingan terhadap usaha-usaha dalam negri. 
Dari segi Sumber Daya Manusia (SDM), pemerintah boleh membuat suatu kurikulum pendidikan yang mensyaratkan kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh industry maupun sector jasa yang ada dalm konteks kekinian. Selain itu TOL laut yang telah menjadi program pemerintah JOKOWI-JK saat ini harus sesegera mungkin diselesaikan. Agar kesenjangan yang terjadi dapat cepat teratasi sehingga pemerataan pembangunan dapat terwujud.
Dari sisi tenaga kerja, Indonesia tengah menikmati bonus demografi. Sebanyak 60% penduduk berusia dibawah 30 tahun dan puncaknya, tahun 2028-2030, 70% penduduk berada pada usia kerja 15-64 Tahun. Dengan bonus demografi ini, Indonesia mampu menjadi Negara kaya jika jumlah tenaga kerja usia produktif yang lebih besar dibanding yang tidak produktif memiliki produktivitas tinggi. Dan pemerintah harus mampu menghubungkan mereka dengan system perbankan agar meningkatkan dana sebagai modal pembangunannya.
         Tidak hanya itu, banyak Pekerjaan Rumah yang mesti terselesaikan. Mualai dari kegaduhan para elit politik, korupsi yang masi meraja lela, sampai dengan kesenjangan pembagunan. Itu semua mesti dahulu diselesaikan sebelum bangsa ini bergerak maju kedepan. Seperti kata pepatah “Perbaiki dirimu sebelum memperbaiki yang lain, selesaikan tugasmu sebelum menyelesaikan tugas orang lain”.

Opini ini pernah ter bit di http://indotimnews.com
 
Penulis
M. Apriawan K. Repadjori
Sekretaris Biro Kastra
ISMEI 2015-2017

Independensi dan Idealisme Mahasiswa untuk Sulteng Lebih Baik


Pemuda Merupakan Pilar Kebangkitan, Pemuda adalah Rahasia Dari Sebuah Kekuatan. Dalam Setiap Pergerakan, Pemuda Adalah Panji-Panjinya” (Hasan Al-Banna).
Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Desember. Tepat di tanggal 9 Desember kemarin dilaksanakan pemilu serempak diseluruh daerah di Indonesia. Sebagai warga Negara yang baik sudah seyogyanya kita harus menggunakan hak pilih kita dengan sebaik-baiknya pula, sebab seorang pemimpin adalah cerminan dari masyarakatnya.
Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) merupakan hal yang penting yang harus di ikuti setiap warga masyarakat, karna masa depan masyarakat ada ditangan pemerintahan yang terpilih tersebut. Mau dibawa kemana arah masyarakat dan kebijakan yang bagaimana yang kita inginkan itu tergantung dari siapa pemimpin yang terpilih. Tidak sedikit masyarakat yang mengeluh dengan pemerintahan yang ada saat  ini, tapi ketika ditanya siapa pemimpin yang mereka pilih kemarin? spontan jawaban mereka tidak memilih. Maka sangat naïf kiranya ketika kita mengkritisi pemerintahan yang ada saat ini sementara kita sendiri tidak mau terlibat dalm suksesi pemilihan Kepala Daerah.   
Satu suara yang kita miliki sangatlah berharga. Bahkan bisa mengubah Pemerintahan yang ada. Mari sama-sama kita bayangkan ketika setiap satu rumah tangga ada yang berfikiran bahwa suaranya tidak ada artinya, jikalau hal ini dikalkulasikan dengan seluruh rumah tangga yang terdaftar sebgai pemilih, bisa anda bayangkan jumlahnya akan mencapai ribuan bahkan ratusan ribuh suara yang tidak memilih. Padahal jikalau suara itu diberikan kepada calon pemimpin yang berjanji untuk membawa perubahan walaupun itu hanya sekedar janji kampanyenya setidaknya kita sudah menunaikan kewajiban kita untuk memilih. Sehingga dengan begitu kita berhak mengkritisi pemerintahan yang ada. Walaupun disisi lain kelemahan dari  Pemilihan langsung ini adalah suara seorang tukang Becak dan suara Seorang Profesor sama-sama dihitung satu suara. Namun terlepas dari itu semua kita haruslah sadar bahwa Golput bukanlah solusi. Bahkan gerakan golput ini bisa jadi sengaja disuarakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan dari kalangan merekalah yang terpilih.
Dari data yang penulis ambil dihalaman Republika.com Jumlah Pemilih yang Golput pada PILPRES 2014 berkisar 56,7 Juta pemilih sementara untuk wilayah Sulawesi Tengah sendiri jumlah pemilih yang Golput berkisar 24,05% atau sekitar 474.117 suara dari 1.971.383 daftar calon pemilih. Angka golput ini lebih besar dibandingkan dengan caleg DPR RI yang menduduki peringkat pertama H.Muhidin Muhamad Said dengan perolehan 131.508 suara.
Kebanyakan warga yang penulis sempat temui dan wawancarai mengaku, tidak memnggunakan hak pilihnya karna tidak merasakan dampak dari pergantian kepemimpinan dalam pemerintahan yang ada.  Tentunya hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama demi perkembangan dinamika perpolitikan di tanah air khususnya di Sulawesi Tengah agar lebih baik.
Sehubungan dengan hal itu, mahasiswa dan pelajar merupakan pemilih pemula dengan presentasi suara terbanyak. Mengenai hal tersebut  Mahasiswa yang notabene merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, yang merupakan pemilih pemula yang dengan statusnya sebagai mahasiswa menempati posisi middle class ditataran social masyarakat.
Dengan posisi tersebut, ada peran-peran tertentu yang menjadikan mahasiswa itu istimewa. Diantaranya sering kita dengar ungkapan mengenai Mahasiswa sebagai Agent of Change, Social Control, Moral Force dan iron stock. Peran-peran tersebut secara otomatis telah melekat kepada mereka yang menyandang  gelar Mahasiswa.
Dalam kaitannya dengan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serempak ini, sudah seyogyanya peran-peran tersebut di aktualisasikan dengan nyata, salah satunya adalah dengan menjunjung tinggi Idealisme Mahasiswa untuk mengawal PILKADA serampak ini. Tidak ikut-ikut terlibat dalam suksesi salah satu calon juga merupakan representatif dari peren mahasiswa sebagai social control. Sebab tak bisa dipungkiri banyak dari kalangan Mahasiswa yang terlibat secara terang-teragan mendukung salah satu calon, bahkan ada sampai yang masuk dalam tim inti untuk memenangkan  calon yang mereka usung.
Lebih parahnya lagi Mahasiswa yang terlibat dalam suksesi ini adalah mereka yang sadar betul akan peran dan fungsinya sebagai Mahasiswa, sebab kebanyakan dari mereka adalah para aktivis kampus yang pandai dalam beretorika sehingga dapat mempengaruhi orang lain untuk memilih calon tertentu.
Jikalau hal ini sudah menjangkit seluruh aktivis kita, mau dikemanakan masa depan negri ini? Seperti kata pepatah “Pemuda saat ini adalah pemimpin hari esok”. Jikalau saat ini mereka tidak bisa menjalankan perannya sebagai mahasiswa dengan sebijaksana mungkin, bagai mana nanti jikalau mereka telah memimpin bangsa ini?
Seharusnya kita sebagai mahasiswa menfokuskan perhatian pada jumlah pemilih yang golput itu. Kita tidak bisa menyalahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) ataupun siapa terkait masalah ini. Sebab adalah tanggung  jawab kita bersama untuk terus ikut mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai pentingnya memilih dan dampak kebijakan yang akan ditimbulkan oleh para pemimpin yang baru terpilih. Kita adalah kaum terpelajar yang harus saling mengajarkan kepada mereka yang membutuhkan.
Maka dari itu alangkah baiknya jika momentum 9 desember kemarin bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua. Kita jadikan momentum Pilkada serentak ini sebagai otokritik agar tidak terjadi kesalahan yang sama dimasa yang akan datang. Sebab dinamika Perpolitikan suatu daerah tidak lepas dari Sumber Daya Manusianya (SDM). Dan kita sebagai Agent of Iron Stok Perlu mempersiapkan diri sebagai generasi penerus itu. Dengan bekal SDM yang baik, maka akan mempengaruhi dinamika perpolitikan yang tentunya kearah yang lebih baik pula. Tidak menutup kemungkinan, 5 atau 10 tahun kedepan jajaran Tokoh Nasional akan di penuhi dengan deretan nama-nama yang itu berasal dari Sulawesi Tengah, atau bahkan kursi kepresidenan Bangsa ini akan diisi oleh kader-kader daerah kita. Itu semua tergantung kita dan sejauh mana kita sadar dan saling menyadarkan.

Palu, 19 November 2015
Moh. Apriawan

Tuesday, 5 January 2016

POSITIVE ACTION PLAN


Penulis : Napoleon Hill
Penerjemah : Soegiono
Penerbit : Ufuk Press 
          Ada sebuah Pepatah yang mengatakan Bahwa perjalan jauh dimulai dengan sebuah langkah. Langkah awal Anda menuju kekayaan, pengembangan diri, kesuksesan dan kebahagiaan semudah Anda membaca buku ini, mecari tanggal hari ini, dan merai hari esok yang cemerlang--Anda dapat melakukannya saat ini juga. 


     Jadi Buku Positive Action Plan yang ditulis oleh NAPOLEON HILL  ini. Adalah buku kutipan motivasi-motivasi diri yang banyaknya sesuai dengan jumlah hari dalam setahun. Dalam membaca Ebook ini Anda tidak diharapkan membacanya sekaligus dari awal sampai akhir, namun Anda cukup membacanya dari hari-ke hari sesuai dengan tanggal di hari anda membaca buku ini. Sebab setiap kutian yang Anda baca tidak akan ada artinya tanpa Perubahan yang Anda lakukan dihari itu. Sehingga diharapkan setelah tuntas Anda membacanya dalam setahun kedepan Anda akan tumbuh menjadi Pribadi yang Luar Biasa...
Selamat Mencoba Ya...

Saturday, 2 January 2016

China Undercover

        Ebook kali ini sengaja saya bagikan buat teman-teman yang ingin mengetahui sejarah dibalik kesuksesan China atau saat ini lebih kita kenal dengan Negara Thionkok.

      Hampir disetiap aktivitas keseharian kita kerap kali segala macam jenis produk China kita jumpai. Mulai dari gadjed, Tv, Motor, Produk Rumah tangga, bahkan sampai makanan yang kita konsumsi sehari-hari banyak yang berasal dari China.

         Tentunya China dengan kegemilangannya saat ini tidak sertah mertah mereka raih begitu saja. Perjuangan yang sangat berat telah mereka lalui dengan tetesan keringat darah.

         Cerita-cerita yang ada dibuku ini adalah mengenai perjuangan petani untuk meraih keadilan..mengenai kemiskinan didesa yang jauh berbeda dengan kota...perjuangan untuk sebuah tranparansi keuangan dan perjuangan itu mahal harganya.

         Uang begitu menggoda manusia. Siapa yang terpikat akan menjadi ambisius. Dengan kekuasaan di tangan, uang di kantong, hasrat tersebut semakin menjadi-jadi..jadi lupa diri..jadi lupa saudara..jadi lupa istri..jadi bengis..bahkan bisa jadi diktator. Petani China diharuskan membayar sejumlah uang untuk cadangan kas desa. Namun pajak plus-plus siluman banyak ragamnya. Dan penyelewengan uang kas desa untuk keperluan pribadi pengurus partai dan desa ditemukan sang penulis, ada dimana-mana di wilayah propinsi Anhui. Itu Cuma satu propinsi di China lho...tapi petani desa yang berpendidikan tidak mau tinggal diam. Mereka menginginkan kebenaran..Mereka menginginkan audit..Mereka sungguh capai bertahan hidup..kelaparan sementara didepan mata makanan berlimpah ruah. Tak semudah di Indonesia, jika kasus korupsi terungkap, ada KPK..ada pers yang bawel (good job!). Di China, misal bos partai desa X korupsi, petani lapor ke ketua partai kecamatan..lalu kabupaten..lalu prefektur..lalu propinsi..namun jika keluhan petani tetap tidak dihiraukan.maka jalan satu-satunya adalah pergi ke ibukota Beijing, melapor ke komisi pengaduan. Jalan perjuangan petani tersebut tak semulus kulit bayi. Sekembalinya ke desa, justru harus berhadapan dengan petugas keamanan, diteror, ditahan, disekap, dipukuli beramai-ramai, disetrum pentungan listrik, dan pulang ke rumah dengan peti mati. Suatu desa bisa digempur polisi jika ada yang berani mengusik kenyamana pengurus partai. Tak peduli tua renta, wanita atau anak-anak apalagi laki-laki..ditempeleng sama keras! Sungguh menyayat hati!

             Salah satu ciri dari ekonomi terpusat adalah semua sendi kehidupan dikendalikan oleh negara. Dan hal yang mengejutkan, wanita untuk hamil ada jadwalnya...bergiliran jika ada yang hamil duluan sebelum gilirannya tiba, mending diomelin, ditahan! Seorang pejabat desa nun jauh di China mengatakan saya lebih senang melihat tujuh gundukan tanah dibanding lahirnya seorang bayi. Tujuh gundukan tersebut adalah wanita yang meninggal dunia karena aborsi. Mengerikan bukan...

                   Kejadian-kejadian dalam China Undercover merupakan kisah nyata. Nama tokohnya juga asli, tidak pakai inisial dan tidak pakai kamera tersembunyi (lho?). Penulisnya sendiri harus berhadapan dengan bos-bos partai atau kepala desa yang di pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik, kambing hitam kebenaran.

So langsung saja buat teman-teman yang penasaran dengan Kisah Perjuangan China meraih kegemilangannya, silahkan Download Ebboknya secara Gratis! 

Jika ingin di sebar luaskan silahkan . Dan Bagi yag mecantumkan http://bukubiruh.blogspot.co.id sebagai sumbernya Saya Ucapkan "TERIMA KASIH :)".

Tabe, klik Dibawah ini jika ingin Mendownload.