“Pemuda
Merupakan Pilar Kebangkitan, Pemuda adalah Rahasia Dari Sebuah Kekuatan. Dalam
Setiap Pergerakan, Pemuda Adalah Panji-Panjinya” (Hasan Al-Banna).
Tidak terasa kita sudah memasuki
bulan Desember. Tepat di tanggal 9 Desember kemarin dilaksanakan pemilu
serempak diseluruh daerah di Indonesia. Sebagai warga Negara yang baik sudah
seyogyanya kita harus menggunakan hak pilih kita dengan sebaik-baiknya pula,
sebab seorang pemimpin adalah cerminan dari masyarakatnya.
Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA)
merupakan hal yang penting yang harus di ikuti setiap warga masyarakat, karna
masa depan masyarakat ada ditangan pemerintahan yang terpilih tersebut. Mau
dibawa kemana arah masyarakat dan kebijakan yang bagaimana yang kita inginkan
itu tergantung dari siapa pemimpin yang terpilih. Tidak sedikit masyarakat yang
mengeluh dengan pemerintahan yang ada saat
ini, tapi ketika ditanya siapa pemimpin yang mereka pilih kemarin?
spontan jawaban mereka tidak memilih. Maka sangat naïf kiranya ketika kita
mengkritisi pemerintahan yang ada saat ini sementara kita sendiri tidak mau
terlibat dalm suksesi pemilihan Kepala Daerah.
Satu suara yang kita miliki
sangatlah berharga. Bahkan bisa mengubah Pemerintahan yang ada. Mari sama-sama
kita bayangkan ketika setiap satu rumah tangga ada yang berfikiran bahwa
suaranya tidak ada artinya, jikalau hal ini dikalkulasikan dengan seluruh rumah
tangga yang terdaftar sebgai pemilih, bisa anda bayangkan jumlahnya akan mencapai
ribuan bahkan ratusan ribuh suara yang tidak memilih. Padahal jikalau suara itu
diberikan kepada calon pemimpin yang berjanji untuk membawa perubahan walaupun
itu hanya sekedar janji kampanyenya setidaknya kita sudah menunaikan kewajiban
kita untuk memilih. Sehingga dengan begitu kita berhak mengkritisi pemerintahan
yang ada. Walaupun disisi lain kelemahan dari Pemilihan langsung ini adalah suara seorang
tukang Becak dan suara Seorang Profesor sama-sama dihitung satu suara. Namun
terlepas dari itu semua kita haruslah sadar bahwa Golput bukanlah solusi.
Bahkan gerakan golput ini bisa jadi sengaja disuarakan oleh orang-orang yang
tidak bertanggung jawab dengan tujuan dari kalangan merekalah yang terpilih.
Dari data yang penulis ambil
dihalaman Republika.com Jumlah
Pemilih yang Golput pada PILPRES 2014 berkisar 56,7 Juta pemilih sementara
untuk wilayah Sulawesi Tengah sendiri jumlah pemilih yang Golput berkisar
24,05% atau sekitar 474.117 suara dari 1.971.383 daftar calon pemilih. Angka
golput ini lebih besar dibandingkan dengan caleg DPR RI yang menduduki
peringkat pertama H.Muhidin Muhamad Said dengan perolehan 131.508 suara.
Kebanyakan warga yang penulis sempat
temui dan wawancarai mengaku, tidak memnggunakan hak pilihnya karna tidak
merasakan dampak dari pergantian kepemimpinan dalam pemerintahan yang ada. Tentunya hal ini perlu menjadi perhatian kita
bersama demi perkembangan dinamika perpolitikan di tanah air khususnya di
Sulawesi Tengah agar lebih baik.
Sehubungan dengan hal itu, mahasiswa
dan pelajar merupakan pemilih pemula dengan presentasi suara terbanyak.
Mengenai hal tersebut Mahasiswa yang
notabene merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, yang merupakan pemilih
pemula yang dengan statusnya sebagai mahasiswa menempati posisi middle class ditataran social masyarakat.
Dengan posisi tersebut, ada
peran-peran tertentu yang menjadikan mahasiswa itu istimewa. Diantaranya sering
kita dengar ungkapan mengenai Mahasiswa sebagai Agent of Change, Social Control, Moral Force dan iron stock. Peran-peran tersebut secara
otomatis telah melekat kepada mereka yang menyandang gelar Mahasiswa.
Dalam kaitannya dengan Pemilihan
Kepala Daerah (PILKADA) serempak ini, sudah seyogyanya peran-peran tersebut di
aktualisasikan dengan nyata, salah satunya adalah dengan menjunjung tinggi
Idealisme Mahasiswa untuk mengawal PILKADA serampak ini. Tidak ikut-ikut
terlibat dalam suksesi salah satu calon juga merupakan representatif dari peren
mahasiswa sebagai social control.
Sebab tak bisa dipungkiri banyak dari kalangan Mahasiswa yang terlibat secara
terang-teragan mendukung salah satu calon, bahkan ada sampai yang masuk dalam tim
inti untuk memenangkan calon yang mereka
usung.
Lebih parahnya lagi Mahasiswa yang
terlibat dalam suksesi ini adalah mereka yang sadar betul akan peran dan
fungsinya sebagai Mahasiswa, sebab kebanyakan dari mereka adalah para aktivis
kampus yang pandai dalam beretorika sehingga dapat mempengaruhi orang lain
untuk memilih calon tertentu.
Jikalau hal ini sudah menjangkit
seluruh aktivis kita, mau dikemanakan masa depan negri ini? Seperti kata
pepatah “Pemuda saat ini adalah pemimpin hari esok”. Jikalau saat ini mereka
tidak bisa menjalankan perannya sebagai mahasiswa dengan sebijaksana mungkin,
bagai mana nanti jikalau mereka telah memimpin bangsa ini?
Seharusnya kita sebagai mahasiswa
menfokuskan perhatian pada jumlah pemilih yang golput itu. Kita tidak bisa
menyalahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) ataupun siapa terkait masalah ini.
Sebab adalah tanggung jawab kita bersama
untuk terus ikut mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai pentingnya
memilih dan dampak kebijakan yang akan ditimbulkan oleh para pemimpin yang baru
terpilih. Kita adalah kaum terpelajar yang harus saling mengajarkan kepada
mereka yang membutuhkan.
Maka dari itu alangkah baiknya jika momentum 9
desember kemarin bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua. Kita jadikan
momentum Pilkada serentak ini sebagai otokritik agar tidak terjadi kesalahan
yang sama dimasa yang akan datang. Sebab dinamika Perpolitikan suatu daerah
tidak lepas dari Sumber Daya Manusianya (SDM). Dan kita sebagai Agent of Iron Stok Perlu mempersiapkan
diri sebagai generasi penerus itu. Dengan bekal SDM yang baik, maka akan
mempengaruhi dinamika perpolitikan yang tentunya kearah yang lebih baik pula.
Tidak menutup kemungkinan, 5 atau 10 tahun kedepan jajaran Tokoh Nasional akan
di penuhi dengan deretan nama-nama yang itu berasal dari Sulawesi Tengah, atau
bahkan kursi kepresidenan Bangsa ini akan diisi oleh kader-kader daerah kita.
Itu semua tergantung kita dan sejauh mana kita sadar dan saling menyadarkan.
Palu, 19 November 2015
Moh. Apriawan

No comments:
Post a Comment