• Home
  • Manajemen
  • Opini
  • Musik
  • Motivasi
  • Rhomansa
  • Organisasi
  • Pepatah
  • PKM
  • Tahu kah Kamu
  • Download Ebook
  • Monday, 11 January 2016

    Independensi dan Idealisme Mahasiswa untuk Sulteng Lebih Baik


    Pemuda Merupakan Pilar Kebangkitan, Pemuda adalah Rahasia Dari Sebuah Kekuatan. Dalam Setiap Pergerakan, Pemuda Adalah Panji-Panjinya” (Hasan Al-Banna).
    Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Desember. Tepat di tanggal 9 Desember kemarin dilaksanakan pemilu serempak diseluruh daerah di Indonesia. Sebagai warga Negara yang baik sudah seyogyanya kita harus menggunakan hak pilih kita dengan sebaik-baiknya pula, sebab seorang pemimpin adalah cerminan dari masyarakatnya.
    Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) merupakan hal yang penting yang harus di ikuti setiap warga masyarakat, karna masa depan masyarakat ada ditangan pemerintahan yang terpilih tersebut. Mau dibawa kemana arah masyarakat dan kebijakan yang bagaimana yang kita inginkan itu tergantung dari siapa pemimpin yang terpilih. Tidak sedikit masyarakat yang mengeluh dengan pemerintahan yang ada saat  ini, tapi ketika ditanya siapa pemimpin yang mereka pilih kemarin? spontan jawaban mereka tidak memilih. Maka sangat naïf kiranya ketika kita mengkritisi pemerintahan yang ada saat ini sementara kita sendiri tidak mau terlibat dalm suksesi pemilihan Kepala Daerah.   
    Satu suara yang kita miliki sangatlah berharga. Bahkan bisa mengubah Pemerintahan yang ada. Mari sama-sama kita bayangkan ketika setiap satu rumah tangga ada yang berfikiran bahwa suaranya tidak ada artinya, jikalau hal ini dikalkulasikan dengan seluruh rumah tangga yang terdaftar sebgai pemilih, bisa anda bayangkan jumlahnya akan mencapai ribuan bahkan ratusan ribuh suara yang tidak memilih. Padahal jikalau suara itu diberikan kepada calon pemimpin yang berjanji untuk membawa perubahan walaupun itu hanya sekedar janji kampanyenya setidaknya kita sudah menunaikan kewajiban kita untuk memilih. Sehingga dengan begitu kita berhak mengkritisi pemerintahan yang ada. Walaupun disisi lain kelemahan dari  Pemilihan langsung ini adalah suara seorang tukang Becak dan suara Seorang Profesor sama-sama dihitung satu suara. Namun terlepas dari itu semua kita haruslah sadar bahwa Golput bukanlah solusi. Bahkan gerakan golput ini bisa jadi sengaja disuarakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan dari kalangan merekalah yang terpilih.
    Dari data yang penulis ambil dihalaman Republika.com Jumlah Pemilih yang Golput pada PILPRES 2014 berkisar 56,7 Juta pemilih sementara untuk wilayah Sulawesi Tengah sendiri jumlah pemilih yang Golput berkisar 24,05% atau sekitar 474.117 suara dari 1.971.383 daftar calon pemilih. Angka golput ini lebih besar dibandingkan dengan caleg DPR RI yang menduduki peringkat pertama H.Muhidin Muhamad Said dengan perolehan 131.508 suara.
    Kebanyakan warga yang penulis sempat temui dan wawancarai mengaku, tidak memnggunakan hak pilihnya karna tidak merasakan dampak dari pergantian kepemimpinan dalam pemerintahan yang ada.  Tentunya hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama demi perkembangan dinamika perpolitikan di tanah air khususnya di Sulawesi Tengah agar lebih baik.
    Sehubungan dengan hal itu, mahasiswa dan pelajar merupakan pemilih pemula dengan presentasi suara terbanyak. Mengenai hal tersebut  Mahasiswa yang notabene merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, yang merupakan pemilih pemula yang dengan statusnya sebagai mahasiswa menempati posisi middle class ditataran social masyarakat.
    Dengan posisi tersebut, ada peran-peran tertentu yang menjadikan mahasiswa itu istimewa. Diantaranya sering kita dengar ungkapan mengenai Mahasiswa sebagai Agent of Change, Social Control, Moral Force dan iron stock. Peran-peran tersebut secara otomatis telah melekat kepada mereka yang menyandang  gelar Mahasiswa.
    Dalam kaitannya dengan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serempak ini, sudah seyogyanya peran-peran tersebut di aktualisasikan dengan nyata, salah satunya adalah dengan menjunjung tinggi Idealisme Mahasiswa untuk mengawal PILKADA serampak ini. Tidak ikut-ikut terlibat dalam suksesi salah satu calon juga merupakan representatif dari peren mahasiswa sebagai social control. Sebab tak bisa dipungkiri banyak dari kalangan Mahasiswa yang terlibat secara terang-teragan mendukung salah satu calon, bahkan ada sampai yang masuk dalam tim inti untuk memenangkan  calon yang mereka usung.
    Lebih parahnya lagi Mahasiswa yang terlibat dalam suksesi ini adalah mereka yang sadar betul akan peran dan fungsinya sebagai Mahasiswa, sebab kebanyakan dari mereka adalah para aktivis kampus yang pandai dalam beretorika sehingga dapat mempengaruhi orang lain untuk memilih calon tertentu.
    Jikalau hal ini sudah menjangkit seluruh aktivis kita, mau dikemanakan masa depan negri ini? Seperti kata pepatah “Pemuda saat ini adalah pemimpin hari esok”. Jikalau saat ini mereka tidak bisa menjalankan perannya sebagai mahasiswa dengan sebijaksana mungkin, bagai mana nanti jikalau mereka telah memimpin bangsa ini?
    Seharusnya kita sebagai mahasiswa menfokuskan perhatian pada jumlah pemilih yang golput itu. Kita tidak bisa menyalahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) ataupun siapa terkait masalah ini. Sebab adalah tanggung  jawab kita bersama untuk terus ikut mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai pentingnya memilih dan dampak kebijakan yang akan ditimbulkan oleh para pemimpin yang baru terpilih. Kita adalah kaum terpelajar yang harus saling mengajarkan kepada mereka yang membutuhkan.
    Maka dari itu alangkah baiknya jika momentum 9 desember kemarin bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua. Kita jadikan momentum Pilkada serentak ini sebagai otokritik agar tidak terjadi kesalahan yang sama dimasa yang akan datang. Sebab dinamika Perpolitikan suatu daerah tidak lepas dari Sumber Daya Manusianya (SDM). Dan kita sebagai Agent of Iron Stok Perlu mempersiapkan diri sebagai generasi penerus itu. Dengan bekal SDM yang baik, maka akan mempengaruhi dinamika perpolitikan yang tentunya kearah yang lebih baik pula. Tidak menutup kemungkinan, 5 atau 10 tahun kedepan jajaran Tokoh Nasional akan di penuhi dengan deretan nama-nama yang itu berasal dari Sulawesi Tengah, atau bahkan kursi kepresidenan Bangsa ini akan diisi oleh kader-kader daerah kita. Itu semua tergantung kita dan sejauh mana kita sadar dan saling menyadarkan.

    Palu, 19 November 2015
    Moh. Apriawan

    No comments: