“JASMERAH”
Jangansekali-kali melupakan sejarah.
“ Bangsa
yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya”
Beberapa
kutipan Bung Karno diatas Mungkin
kembali membangkitkan rasa patriotisme dan Nasionalisme kita kalau
mengingat-ngingat sejarah para pahlawan yang dengan Harta maupun nyawa
berkorban demi kemerdekaan anak cucunya dari tangan para penjajah . Adalah
suatu hal yang biasa saat ini jikalau saat generasi penerus yang menikmati jasa
perjuangan para pahlawan Bangsa ini lupa dengan sejarah bangsanya. Inilah
akibat globalisasi yang tidak dipersipakan dengan baik oleh pemerintahnya.
Bahkan lebih parahnya lagi Pancasila yang menjadi Idiologi Tunggal bangsa ini sudah
mulai dilupakan oleh para pemuda pengisi kemerdekaan saat ini.
Indonesia, bangsa yang besar dengan
segala kekayaannya mulai dari 17.504 Pulau, 1.340 Suku bangsa, dan 546 bahasa
telah menjadikan bangsa ini bangsa yang multy
cultural. Hal yang biasa jikalau bangsa ini mudah bergejolak. Namun
Idiologi Nasional dengan semboyan “Bhineka
Tunggal Ika” telah mempersatukan keberanekaan bangsa ini sehingga mampu
bersaing ditengah-tengah himpitan Perkembangan Global yang kian kemari memberi dampak terhadap
perkembangan bangsa ini.
70 Tahun Indonesia Merdeka, bukan suatu
hal yang kebetulan bangsa ini dipimpin jugaPresiden ke-7. Ir. H. Jokowidodo yang
telah setahun lebih menduduki istana kepresidenan, banyak pergolakan ekonomi
yang perlu menjadi bahan perhatian. Semisal Harga BBM yang Mengalami Fluktuatif,
begitupun Rupiah , dan TOL laut Jokowi yang kini menjadi “Utopi”.
Ditengah-tengah himpitan globalisasi,
Indonesia malah tampil dengan berjuta masalah yang seakan dibuat pelik. Peluang
besar dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi terabaikan. Bukan tidak
mungkin kalau bangsa ini nantinya hanya akan menjadi pasar empuk Negara
tetangga, melihat kesiapan mereka yang lebih mantap dalam menyambut ASEAN
Comunity.
Thailand misalnya, sejak 2008 telah
mempersiapkan diri menyambut MEA ini dengan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada
para mahasiswanya. Berbanding terbalik dengan Indonesia, kian kemari bukan
berbenah diri ataupun mempersiapkan diri, malah sibuk sendiri-sendiri mengurusi
persoalan politiknya yang tak jelas arahnya.
Kini AFTA (Asean Free Trade Area)
atau MEA sudah resmi diberlakukan mulai tanggal 31 Desember 2015 kemarin.
Catatan merah lapor Indonesia masi terpampang dimana-mana. Perguruan Tinggi
yang menghasilkan 600.000 pengangguran terdidik pertahunnya belum mampu
terserap oleh lapangan kerja yang ada. Belum lagi masuknya tenaga kerja dari
Negara-negara anggota ASEAN lainnya menambah padat persaingan yang ada.
Indonesia dengan berbagai kekayaan
alamnya seakan terlihat berbangga. Kalau bangsa kita tidak mau berupah, yakin
dan percaya kekayaan alam kita bukan kita yang rasakan. Kita hanya akan gigit
jari dinegara sendiri, seperti “Tikus yang mati dilumbung Padi”. Itu semua
adalah tantangan besar untuk bangsa ini. Sebab besar sebuah tantangan
berbanding lurus dengan peluang menang atau kalah yang akan didapatkan.
Penduduk ASEAN berjumlah 600 juta
lebih, dan 43% ada di Indonesia. Dengan
begitu bangsa kita kemungkinan besar menjadi target pasar utama begi
Negara-negara yang terhimpun dalam ASEAN
Comunity. Sehingga hemat penulis, Pemerintah dengan berbagai macam
kesibukannya harus menyisihkan waktu khusus untuk membahas masalah ini.
Dari dalam negri misalnya, pemerintah
harus mempekokoh regulasi tentang dominasi asing dan mendukung produksi
domestik agar tidak kalah saing dengan produksi yang akan masuk nantinya.
Pemerintah juga harus melakukan berbagai macam pelatihan dan pembimbingan
terhadap usaha-usaha dalam negri.
Dari segi Sumber Daya Manusia (SDM),
pemerintah boleh membuat suatu kurikulum pendidikan yang mensyaratkan kompetensi
dasar yang dibutuhkan oleh industry maupun sector jasa yang ada dalm konteks
kekinian. Selain itu TOL laut yang telah menjadi program pemerintah JOKOWI-JK
saat ini harus sesegera mungkin diselesaikan. Agar kesenjangan yang terjadi
dapat cepat teratasi sehingga pemerataan pembangunan dapat terwujud.
Dari sisi tenaga kerja, Indonesia
tengah menikmati bonus demografi. Sebanyak 60% penduduk berusia dibawah 30
tahun dan puncaknya, tahun 2028-2030, 70% penduduk berada pada usia kerja 15-64
Tahun. Dengan bonus demografi ini, Indonesia mampu menjadi Negara kaya jika
jumlah tenaga kerja usia produktif yang lebih besar dibanding yang tidak
produktif memiliki produktivitas tinggi. Dan pemerintah harus mampu
menghubungkan mereka dengan system perbankan agar meningkatkan dana sebagai
modal pembangunannya.
Tidak hanya itu, banyak Pekerjaan Rumah yang mesti
terselesaikan. Mualai dari kegaduhan para elit politik, korupsi yang masi
meraja lela, sampai dengan kesenjangan pembagunan. Itu semua mesti dahulu
diselesaikan sebelum bangsa ini bergerak maju kedepan. Seperti kata pepatah “Perbaiki
dirimu sebelum memperbaiki yang lain, selesaikan tugasmu sebelum menyelesaikan
tugas orang lain”.
Penulis
M. Apriawan K. Repadjori
Sekretaris
Biro Kastra
ISMEI 2015-2017


